OBI- Di Pulau Obi, perjalanan karier sebagian besar pekerja lokal dimulai dari kesempatan sederhana yang kemudian berkembang seiring waktu dan pengalaman lapangan. Bagi masyarakat sekitar, proses ini bukanlah sesuatu yang instan, melainkan sebuah perjalanan bertahap yang berjalan selaras dengan dinamika industri yang terus tumbuh.
Salah satu cerita inspiratif datang dari Frangi Cako, pemuda asal Desa Kawasi. Ia memulai langkahnya di Harita Nickel pada tahun 2015 sebagai anggota security saat masih berusia 18 tahun.
Seiring berjalannya waktu, kedisiplinan dan pengalaman yang ia bangun perlahan membuka jalan bagi tanggung jawab yang lebih besar. Dari seorang anggota, ia dipercaya menjadi Komandan Regu, hingga akhirnya pada September 2025 resmi menjabat sebagai Security Supervisor.
“Di Industrial Sektor 3, kami mengoordinasikan total 43 personel yang bertugas di titik-titik strategis perusahaan,” ujar pria berusia 29 tahun tersebut saat menceritakan tanggung jawabnya saat ini.
Angki, sapaan akrab Frangi, menekankan bahwa tugasnya kini jauh melampaui anggapan umum tentang personel keamanan yang sekadar berjaga di pos. Tanggung jawab yang ia emban saat ini mencakup manajemen personel, koordinasi aspek keselamatan (safety), hingga pengelolaan administrasi perkantoran.
“Kami juga difasilitasi kursus komputer untuk menunjang pekerjaan administrasi. Keterampilan komputer ini tidak pernah saya dapatkan sejak bangku sekolah. Namun di Harita Nickel, kami diajari dari dasar hingga mampu mengoperasikannya dengan baik,” jelasnya.
Melalui pencapaiannya, Angki menepis anggapan miring yang menyebutkan bahwa tenaga kerja lokal tidak mendapatkan tempat di perusahaan. Ia menjadikan dirinya sendiri sebagai bukti nyata bahwa masyarakat lokal mampu mencapai posisi strategis.
“Saya ini warga asli Kawasi, lahir dan besar di sini. Keberhasilan menduduki jabatan tingkat supervisor menandakan bahwa kami diterima dengan baik dan putra daerah memiliki peluang besar untuk maju. Yang perlu kita tunjukkan adalah dedikasi dan kerja keras, bukan mengeluh,” tegasnya.
Dedikasi dan kerja keras menjadi pesan penutupan dari Angki untuk generasi muda Pulau Obi.
“Saya membutuhkan waktu lebih dari 10 tahun untuk mencapai posisi sekarang dan saya masih ingin terus mengembangkan karier. Kita harus menghargai proses dari bawah, karena pengalaman itulah yang akan membentuk kita untuk naik ke level berikutnya,” tutur anak kedua dari lima bersaudara ini.
Cerita sukses lain datang dari Yokber Cecene, warga Kawasi yang kini dipercaya menjabat sebagai Supervisor Construction & Engineering. Perjalanan dan tantangan yang ia lalui selama bekerja di Harita Nickel menjadi catatan yang tidak kalah menarik.
Yokber mulai bergabung dengan Harita Nickel pada tahun 2007. Saat itu, ia merupakan salah satu dari sekitar 50 warga Kawasi yang direkrut secara bersamaan. Di masa-masa awal tersebut, mereka keluar masuk hutan untuk membangun fondasi awal operasional perusahaan.
“Saya merintis dari pekerjaan paling bawah. Sekarang, saya memimpin tim yang terdiri dari beberapa foreman dan kru,” ungkapnya.
Dalam kesehariannya, Yokber banyak menangani proyek konstruksi penting. Salah satu bukti nyata kerja keras timnya adalah pembangunan Jembatan Akelamo yang menghubungkan Desa Kawasi dan Desa Soligi. Tanggung jawab dan dedikasi tinggi yang selalu ia tunjukkan dalam setiap tugas akhirnya mengantarkan Yokber pada posisi strategis saat ini.
“Waktu awal bekerja saya masih lajang, sekarang anak saya sudah mau lulus SMA dan sedang menempuh pendidikan di Yogyakarta. Ia bercita-cita masuk sekolah penerbangan, semoga impiannya terwujud,” kata Yokber dengan nada bangga.
Yokber mengakui kondisi perekonomian keluarganya kini telah mapan. Sang istri juga berhasil mengembangkan usaha dagang sembako di kawasan ekonomi yang berdekatan dengan Pemukiman Baru Desa Kawasi, tempat tinggal mereka saat ini.
Ia sangat berharap generasi muda Pulau Obi dapat mengukir karier yang cemerlang di Harita Nickel, asalkan memiliki kemauan kuat untuk berkembang dan berdedikasi tinggi.
“Di keluarga saya sendiri, ada dua orang yang sudah menjadi foreman, dan beberapa lainnya berada di posisi yang memiliki jenjang karier menjanjikan. Tetangga-tetangga saya juga banyak yang bekerja di sini. Artinya, sudah banyak warga Kawasi yang berkarier di perusahaan, dan generasi muda Obi lainnya pasti bisa melakukan hal yang sama,” pungkasnya.
Sementara itu, dari Desa Soligi, Sifa Sahbila Amirudin (19 tahun) memilih jalur yang berbeda untuk memulai langkahnya. Ia mengikuti program PELITA (Peningkatan Keahlian dan Keterampilan), sebuah program pelatihan pemberdayaan masyarakat yang berfokus pada peningkatan keahlian, termasuk penguasaan bahasa Mandarin. Saat ini, Sifa tengah menjalani masa magang di Departemen HRGA Site Obi.
“Saya mengikuti program PELITA selama enam bulan. Sebelum masuk ke kelas bahasa Mandarin, saya juga mengikuti kursus komputer yang diselenggarakan oleh CSR Harita Nickel. Saya memilih dua bidang tersebut karena dinilai sangat relevan dengan kebutuhan komunikasi industri di Pulau Obi saat ini,” kata Sifa.
Setamat SMA, Sifa sebenarnya memiliki keinginan kuat untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun, keterbatasan ekonomi memaksanya untuk menunda impian tersebut. Kesempatan magang sebagai penerjemah bahasa Mandarin menjadi pengalaman baru yang berharga dan membuka cakrawala baru bagi masa depannya. Melalui program ini, ia berkomitmen untuk terus mengasah kemampuan bahasa dan menambah pengalaman kerja.
“Kesempatan ini adalah bekal yang sangat berharga bagi saya. Saya ingin terus berkembang dan berharap pengalaman serta keterampilan yang didapat di sini bisa menjadi modal untuk membangun karier ke depan, termasuk di Harita Nickel,” harapnya.
Anak sulung dari empat bersaudara ini menceritakan bahwa awalnya ia sempat merasa cemas saat pertama kali masuk sebagai karyawan magang, karena khawatir akan lingkungan kerja yang kaku atau tidak ramah. Namun, kekhawatiran itu sepenuhnya keliru.
“Rekan-rekan kerja di sini sangat suportif. Mereka membimbing, mengarahkan, bahkan mengajak saya berdiskusi setiap kali menghadapi kendala dalam pekerjaan. Saya diterima dengan sangat baik,” ungkap Sifa.
Sifa juga bersyukur karena penghasilan yang diperoleh saat ini dapat membantu meringankan beban ekonomi orang tuanya, sekaligus menjadi penopang finansial bagi keluarga.
Kisah Angki, Yokber, dan Sifa menjadi potret nyata bahwa di tengah pesatnya perkembangan industri nikel di Halmahera Selatan, masyarakat lokal tidak sekadar menjadi penonton. Mereka kini tumbuh, berkembang, dan membuktikan diri mampu menjadi tuan rumah di tanah kelahiran mereka sendiri. (Red)










